Oleh: AruM | 30 Desember 2010

Semoga tidak Ibu..

Libur hari natal kemaren saya pulang. Long weekend di Jabodetabek rasanya aneh. Mending pulang nengokin ibu. Ibu akhir akhir ini kondisinya sering drop. Jadi selagi masih lajang, saya usahakan pulang sesering saya bisa.

Setelah mandi dan istirahat ibu menyuruh saya ke rumah Kakaknya nenek. Sebut saja Mbah Mur. Simbah Mur anaknya ada 4 (sebenernya lebih, tapi saya lupa berapa anak beliau yg sudah meninggal sejak saya belum lahir). Suaminya dah lama meninggal. 3 anaknya ada di Jakarta dan Bogor. 1 lagi ada di kampung tapi beda desa dengan saya. Ya 15 menit nyampe sih kl pake motor. Intinya Mbah Mur sekarang tinggal sendiri.

Ga tau mana yang salah. Karena pikiran orang2 tua kadang susah dimengerti oleh anak muda seumuran saya atau lebih muda lg.. (sok muda). Anak sulungnya pernah tinggal bersamanya selama beberapa waktu yang lalu. Tapi tidak betah, katanya dikampung sepi, jauh dari anak cucu. Dan juga karena beliau mengidap asma akut, sewaktu waktu kambuh parah. Akhirnya memilih kembali ke Jakarta tinggal bersama anak dan cucunya alasannya biar ada yang nyediain obat.

Mbah Mur punya anak laki laki satu yag hidup. Ini masih menapki masa gemilang karirnya. Belum bersedia pindah ke kampung menemani simbah. Atau gak tau alas an lainnya apa. Sedangkan Mbah mur sendiri kalau diajak kerumah anak laki lakinya ini tidak pernah betah tinggal lebih dari 2 bulan. 1,5 bulan aja katanya dah lama banget. Dah minta pulang terus.

Saya sendiri heran knapa mbah mur selalu ingin tinggal di rumah tua itu . Rumah ukuran 3 rumah (Rumah jaman dahulu yang ada pendopo, rumah tengah, dapur yg pisah pisah). Rumah yang tidak materiil menurut saya, disbanding mbah mur harus hidup sendiri didalamnya.  Dan anehnya saat kmaren saya main kerumahnya Mbah Mur itu ngelu karena ga ada temen.

Karena saya masih muda , pikiran cethek saya nyalahin Mbah Mur knapa beliau ndak mau ikut salah satu anaknya. Abis itu malah saya merasa bersalah. Beliau sambil mau nangis bilang “lha moso ket cilik digedhekke, digendong dikempit dindhit, disekolahke, kok saiki aku ditinggal kemprung” –lha masa dari kecil dibesarkan, digendhong (ada depan samping belakang karena nggendong 3 anak sekaligus gendhong kempit indhit), disekolahkan, lha sekarang ditinggal semua gitu aja-

Selama menemani Mbah Mur ngobrol saya sambil membayangkan ibu saya. Semoga masa tuanya ada anaknya yang bisa menemani beliau menikmati masa pension. Ada suara riang cucu cucunya. Kalau anak anaknya tak bisa tinggal dirumahnya, semoga ibu bersedia ikut pindah tinggal di rumah anak anaknya. Baik menetap satu tempat , atau digilir di 4 rumah anak anaknya. Semoga bagian mutasi mengabulkan permohonan pindah saya segera. Amiin.


Responses

  1. amien Ya Rabbal ‘Alamin..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: