Oleh: AruM | 31 Juli 2010

Ramadhan Kelabu Salma

Setiap kali menjelang Ramadhan tiba ada sebuah kesedihan yang mendatangi Salma. Salma merasa dirinya sebatang kara. Setiap menjelang Ramadhan ingatan Salma akan memutar kejadian beberapa tahun silam. Disaat Salma duduk bangku kelas 2 SMA.

Waktu itu adalah masa pemerintahan residen Gus Dur (Abdul Rahman Wahid Alm.). Saat memasuki Bulan Suci Ramadhan semua sekolah diliburkan selama satu bulan lebih. Dari awal Ramadhan hingga sepekan setelah Ramadhan. Kebijakan itu disambut gembira oleh kalangan siswa. Betapa tidak senang bisa bebas sekolah selama satu bulan penuh.

Apalagi Salma yang waktu itu SMA sudah ngekos karena rumahnya yang cukup pelosok. Untuk menuju sekolahnya butuh waktu 1 jam perjalanan menggunakan angkot. Kalo saja Salma dari kalangan orang berada mungkin bisa pulang pergi tiap hari dengan sepeda motor. Salma yang punya kesempatan libur saat Ramadhan sangat senang karena bisa sahur dan berbuka dirumah. Dia tinggal menunggu ibunya membangunkannya untuk sahur.

Sepekan puasa tidak bayak aktifitas yang dikerjakan Salma. Salma yang tidak ketat dididik ilmu Agama tidak bisa memanfaatkan Ramadhan penuh barokahnya. Ya, dia hidup jauh dari lingkungan santri. Dia hidup dilingkungan “Islam Abangan”. Hidup di kalangan orang yang mengaku Islam tapi jarang orang yang melaksanakan ajaran Islam. Salm dan keluarganya juga menjalankan ajaran Islam asal saja. Yang penting sholat lima waktu, puasa, zakat tidak ditinggalkan.

Andai saja Salma tau kalau Ramadhan adalah bulan penuh barokah, dia tidak akan menyia nyiakan bulan suci itu. Dia tidak hanya baca Ayat suci satu ‘ain saja sehari. Dia pasti akan memanfaatkan Ramadhan dengan memperbanyak bacaan Alqur’an, memperbanyak sholat sunah Rawatib.

Hari itu hari sabtu. Salma dirumah dengan kakak sulungnya Sofia yang libur kuliah, nenek dan ayahnya dirumah.  Ibunya yang Guru lulusan SPG (sekolah Pendidikan Guru) setingkat SMA sedang semangat menempuh pendidikan lagi. Semangat kuliah di kota sebelah. Saat pukul 10.00 ada siaran tinju di sebuah acara televisi. Myke Tyson sang juara dunia sedang berlaga. Dia menemani ayahnya menyaksikan gelar tinju dunia itu. Saat sebelum pertandingan selesai Salma sudah tertidur di depan televise. Setelah pertandinga selesai ayahnya mematikan televise. Terus pergi ke kamar.

Tiba tiba ada suara ribut di dalam rumahnya yang membuat salma kaget. Kakak perempuannya dan neneknya teriak teriak minta tolong dari kamar ayahnya. Salma bangun karena kaget, langsung lari keluar, bukan masuk ke kamar. Begitu ada tetangga yang lari dengan niat memberikan bantuan, Salma baru ikut masuk ke kamar ayahnya. Kaget bukan kepalang. Ayahnya sedang kejang kejang.

Salma bingung. Dia langsung lari kerumah kakak sang ayah agar dating menolong, membawa ayah ke rumah sakit. Salma melanjutkan mencari adik ayahnya. Karena kabar dari salma saudara saudara ayahnya berkumpul dirumahnya dalam waktu tidak lama. Mereka semua mau membawa ayah Salma ke rumah sakit. Tapi sayang, rumah Salma terlalu pelosok. Sehingga mencari mobil saja susahnya mita ampun. Tak ada yang bisa diperbuat Salma. Hanya masuk ke kamar ayahnya sebentar keluar lagi. Salma melihat reaksi bu bidan (ahli medis terdekat yang bisa dipanggil) seolah mengisyaratkan tak ada harapan, salma terduduk lemas di kursi ruang tamu. Sang bibi mendekati menyusruh Salma ikhlas kalau Ayahnya kenapa kenapa.

Ya Salma hanya duduk terdiam tanpa kata kata bersama bibinya. Tidak terdengar suara tangisnya. Bukan karea tidak sedih atau tidak sayang pada ayahnya, tapi Salma belum percaya kalau ayahnya sudah menghadap Sang khaliq. Apalagi itu bulan Puasa, bulan penuh ampunan. Salma berharap dosa dosa ayahnya telah diampuni Sang khaliq, dan ada keistimewaan meninggal di bulan yang suci. Orang semakin ramai berkerumun diluar rumah Salma.

Karena bulan puasa, dan waktunya sudah sore jenasah ayahnya utuk sementara belum diapa apakan, ditaruh diruang tamu saja. Sambil menunggu ibu salma pulag dari kulianya. Semalaman Salma tidak tidur, menunggu didekat jenasah sang ayah. Di dalam benaknya dia hanya menganggap ayahnya tidur bukan meninggal.

Keesokan harinya terlihat ratusan orang yang memenuhi halaman rumah salma dan jalanan samping rumahnya. Itu karena semasa hidup ayahnya adalah sosok yang dikenal baik dikampungnya. Tidak hanya tetangga satu kampong yang datang tapi juga kampong kampung sebelah. Itu yang membuat Salma makin tegar. Selain kerabat dekat ayahnya yang sudah berkumpul memberikan do’a dan penghormatan terakhir banyak orag yang mendo’akannya, Salma yakin perjalanan ayahnya akan menemui jalan yang mudah. Salma kakak kakanya dan ibunya tidak ada yang menangis mengeluarkan suara. Hanya sesekali terisak dan air mata yang bercucuran. Salma yakin, kalau sampai keluarga meninggal dan diiringi tangis yang meronta2 , si mayat tidak akan diterima di sisi Alloh.

Bagi Salma ayahnya belumlah meninggal, hanya perpisahan sementara waktu. Dari saat itu dia berjanji akan menjaga diri dan ibunya. Dia akan berusaha menjadi anak sholeh agar kelak bisa berkumpul dengan ayahnya di jannahNya.

Teriring do’a Allohumma firlahu warhamhu wakfu’anhu…

21 sya’ban 1931 H.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: