Oleh: AruM | 20 Juli 2012

Media Tanam Anggrek

Lagi mo memulai menghijaukan lingkungan rumah nih…

Belajar menanam Aggrek yuk…

Kebetulan tadi pagi ada yang ngasih bibit anggrek.

Image

Ada tips dari WawaOrchid

Media tanam untuk tanaman anggrek harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu; tidak mudah lapuk, tidak menjadi sumber penyakit, mempunyai aerasi udara yang baik, mampu mengikat air dan zat hara secara baik, mudah didapatkan, dan harga relatif murah. Agar tanaman anggrek tumbuh dengan baik dibutuhkan media tanam dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5 – 6. Pemilihan media tanam ini penting dan harus disesuaikan dengan jenis tanaman anggrek yang akan ditanam. Karena setiap jenis tanaman anggrek mempunyai kesesuaian yang berbeda terhadap media tanam. Juga, media tanam merupakan sarana agar pertumbuhan dan bunga tanaman anggrek dapat optimal.

1.    SPHAGNUM MOSS

Sphagnum moss mempunyai daya pengikat air yang sangat baik. Sebagai media tanam sphagnum moss juga mempunyai aerasi dan draenase yang cukup baik. Sphagnum moss mengandung unsur N (Nitrogen) 2 – 3%. Ketersediaan moss dialam sudah mulai berkurang dan harga juga mulai naik. Media tanam sphagnum moss cukup baik untuk menanam anggrek Phalaenopsis.

2.    SABUT KELAPA

Penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam cukup baik, karena sabut kelapa mempunyai daya simpan air yang baik. Sabut kelapa mudah didapatkan dan harganya murah. Sayangnya sabut kelapa mudah lapuk dan busuk, sehingga dapat menjadi sumber penyakit. Jadi bila ingin memakai sabut kelapa sebagai media tanam angrek, pilih sabut kelapa yang sudah tua. Dan cepat diganti bila sudah lapuk. Baik untuk media tanam anggrek phalaenopsis.

3.    ARANG KAYU

Arang kayu biasa dipakai sebagai bahan bakar, untuk membakar sate atau yang lainnya. Juga bisa dipakai sebagai media tanam untuk anggrek yang cukup baik. Melihat cara pembuatannya yang dibakar, arang kayu merupakan media tanam yang steril, tidak mudah ditumbuhi oleh jamur dan bakteri. Arang kayu juga tidak mudah lapuk, dan mudah didapatkan. Namun arang kayu sukar mengikat air dan miskin zat hara. Arang kayu bisa digunakan untuk media tanam semua jenis tanaman anggrek. Tapi paling baik digunakan sebagai media tanam anggrek Dendrobium dan Cattleya.

4.    PAKIS

Pakis sebagai media tanam cukup baik, mempunyai daya ikat air, aerasi dan drainase yang baik. Daya lapuk pakis secara berlahan-lahan. Dan mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman anggrek. Sayangnya pemakaian pakis sebagai media tanam mempunyai saingan dengan tanaman hias lainnya. Semakin hari ketersediaan pakis juga semakin berkurang. Karena tergantung dari tanaman pakis dialam dan belum dibudidayakan. Pakis cacahan biasa digunakan untuk media saat pembibitan tanaman anggrek, yaitu saat kompot. Karena sifatnya tersebut pakis sebagai media tanam cocok untuk tanaman anggrek Phalaenopsis.

5.    ROCKWOOL

Rockwool adalah olahan dari batu gunung vulkanik diproses menjadi serat dengan ukuran 0,006 – 0,01 mm. Biasanya dalam bentuk lembaran rockwool dan mempunyai fungsi untuk isolator panas di pabrik. Rockwool sebagai media tanam anggrek sudah digunakan di Denmark dan Belanda. Rockwool mempunyai pori yang seragam, sehingga baik digunakan untuk media tanam anggrek. Sebagai media tanam tidak mudah lapuk, mampu menyimpan air, hara dan udara dengan merata. Memang rockwool tidak mengandung hara, tapi mampu menyimpan pupuk dari penyiraman. Mungkin ketersediaannya yang masih belum merata dan agak sulit. Media tanam ini bisa digunakan untuk semua jenis tanaman anggrek, namun sangat cocok untuk tanaman angrek Phalaenopsis.

Pemilihan yang tepat media tanam pada tanaman anggrek adalah dibutuhkan untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik dan pembungaan yang optimal. Untuk pengelola kebun anggrek pertimbangan harga dan ketersediaan media tanam mutlak dipertimbangkan, Karena media tanam merupakan komponen produksi yang akan berpengaruh pada cost per unit produksi.

Ada lagi Litbang Deptan

Media tumbuh yang baik bagi anggrek (famili Orchidaceae) harus memenuhi
beberapa persyaratan, antara lain tidak lekas melapuk dan terdekomposisi, tidak
menjadi sumber penyakit bagi tanaman, mempunyai aerasi dan draenase yang
baik serta lancar, mampu mengikat air dan zat-zat hara secara optimal, dapat
mempertahankan kelembaban di sekitar akar, untuk pertumbuhan anggrek
dibutuhkan ph media 5-6, ramah lingkungan serta mudah didapat dan relatif
murah harganya.
Media tumbuh tanaman anggrek yang umum digunakan adalah arang, pakis,
moss, potongan kayu, potongan bata atau genting, serutan kayu, kulit pinus dan
serabut kelapa. Masing-masing bahan media tersebut mempunyai pengaruh
yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek, tergantung jenis, agroklimat
lingkungan, dan lokasi lahan. Contohnya: faktor ketinggian tempat dan
kelembaban. Penggunaan ragam media di daerah dingin, lembab dan bercurah
hujan tinggi berbeda dengan daerah panas. Di daerah dingin sebaiknya pilih
media yang sangat porous dan sedikit menyerap air. Meningkatnya kelembaban
karena air berlebih mampu mengundang penyakit sehingga akar menjadi kurang
sehat. Sebaliknya di daerah panas pilih media yang mampu menyerap air.
Media yang digunakan untuk budidaya anggrek umumnya secara tunggal atau
campuran. Sebelum memilih kenali karakter masing-masing media. Pada Balai
Penelitian Tanaman Hias Jakarta, penelitian media tumbuh untuk tanaman
anggrek telah dilakukan sejak tahun 1994/1995 terhadap beberapa bahan
seperti arang, bagas tebu, sabut kelapa dan sabut kelapa sawit semuanya
mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai media tumbuh. Pada tahun
1997/1998, penelitian tersebut dilanjutkan dengan berbagai bahan seperti batu
apung, batu marus, batu split, stereofoam, rockwool dan sabut kelapa pot.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa batu marus, batu split dan sabut kelapa pot
potensial untuk dikembangkan karena daya tahannya cukup lama. Menurut Putri
(1998) pada tanaman hias telah berkembang penggunaan media tanam
anorganik seperti perlit, pasir, batu apung dan zeolit. Sedangkan Handreck &
Black (1994) mengemukakan di Australia bahan pilihan media tanam dalam pot
dapat digunakan baik organik seperti limbah pertanian, serbuk gergaji kayu,
peatmoss, sekam padi, bagas tebu, serbuk dan serat daun kelapa, kompos,
campuran kompos dan pasir, maupun anorganik seperti limbah industri, perlit,
vermikulit, stereofoam, batu apung, rockwool, zeolit dan lain-lain.
Persiapan Media
Untuk mempersiapkan media tanam anggrek harus diketahui sifat dan jenis
media yang akan digunakan, gunanya untuk menentukan perlakuan media
sebelum anggrek ditanam.
Tahapan pengisian media dalam pot adalah pertama, sebelum dimanfaatkan,
terlebih dahulu media disterilisasi dengan merendamnya dalam larutan fungisida
Benlate 2g/l, selama 24 jam agar terbebas dari hama dan penyakit. Kedua,
siapkan pot yang sudah bersih dari lumut dan jamur. Ketiga, isikan pecahanpecahan
batu bata pada dasar pot kira-kira 1/3 bagian pot yang berfungsi untuk
aerase dan draenase. Keempat, masukkan arang kayu dan diatasnya
tambahkan potongan atau cacahan pakis.
Kelima, tanam bibit anggrek dalam pot yang telah diisi media. Keenam,
penggantian media (Reppoting) dilakukan 2 tahun sekali yaitu jika: Tanaman
dalam pot sudah penuh (padat); Medium lama sudah hancur, sehingga
menyebabkan medium bersifat asam, bisa menjadi sumber penyakit.
Kombinasi Beberapa Media
Petani anggrek sering menggunakan campuran beberapa jenis media dalam
menanam anggrek, sehingga diperoleh media pertumbuhan yang lebih baik.
Misal kaliandra dicampur dengan arang atau pakis dicampur dengan arang,
penggunaaannya dibagian dasar diisi arang hingga seperempat atau sepertiga
tinggi pot, lalu dibagian atas dilapisi kaliandra. Demikian pula penggunaan pakis
dan arang. Arang dibawah ; pakis diatas.
Untuk 3 jenis bahan misalnya arang, pakis dan kaliandra ; arang, pakis dan kulit
pinus ; arang, sabut kelapa dan pakis; atau ada yang menggunakan cacahan
pakis : kaliandra : arang : batu bata dengan perbandingan 1:1:1:1/2.
Penggunaan media campuran cenderung mendorong pertumbuhan anggrek
menjadi lebih baik dibanding dengan media tunggal. Karena masing-masing
media dapat saling mendukung, contohnya: pecahan genteng umum digunakan
untuk dasar pot karena memperlancar aerasi dan draenase.
Namun kemampuannya dalam menyerap air dan hara sangatlah kurang.
Kelemahan itulah yang ditutupi oleh pakis dan kulit pinus diatasnya. Campuran
dua macam bahan dapat memperbaiki kekurangan sifat masing-masing bahan
antara lain kecepatan pelapukan, tingkat pelapukan, tingkat tersedianya hara
dan kondisi kelembaban dalam media tanam.
Ir. Benamehuli Ginting
KP Penelitian Tanaman Hias, Deptan
Dimuat pada surat kabar Sinar Tani, 7 – 13 Mei 2008

Semoga saya berhasil…

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: