Oleh: AruM | 29 November 2011

Balada Anak Jalanan

Prakkkk…!!!!  sebuah bungkusan dilempar ke arahku berdiri saat menunggu sebuah bus kota di suatu terminal di ibukota. Membuatku kaget. Bungkusan itu dilempar oleh seorang perempuan yang sebelumnya kuliat sedang mengobrol dengan seorang laki laki tak jauh dari tempatku berdiri. Si perempuan yang mungkin masih 23 tahunan itu kelihatan memangku seorang bayi. Dan bungkusan yang dilempar ke arahku itu kantong plasti hitam berisi dua kardus susu bayi , dot bayi sama satu kardus makanan bayi instan.

Perasaanku tiba tiba jadi ga enak. Laki laki yang tadi jongkok didepan si wanita bangkit menuju ke depanku memungut barang barang yang tadi dilempar sama perempuan itu. Dan si perempuan itu tetap mengomel tidak jelas. Hasil dari curi dengar sepertinya si perempuan itu protes dengan nafkah yang diberikan laki laki (yang mungkin suaminya) itu.

Keributan tidak berakhir. Bayi yang dipangku sama perempuan itu ditaruhnya ditrotoar. Silaki laki tidak terima. Digendongnya langsung bayi itu. Pertengkaran mulut tetap berlanjut. Dan sepertinya si perempuan juga sedang hamil. Terdengar olehku kata kata mau menggugurkan. Ah makin miris hati ini.

Ditambah lagi si perempuan itu untuk kedua kalinya melempar kardus2 susu dan bubur instan yang tadi sudah dipungut sang suami. Si bayi imut mungil yang tadi digendong si laki laki dititipkan ke temennya. Si laki laki itu kembali memunguti kardus kardus itu.

Pertikaian kembali memanas. Dan sumpah serapah kata kata kotor terus keluar dari mulut si perempuan. Ah rasanya tak pantas kata kata itu dikeluarkan seorang perempuan di depan umum. Si laki laki merasa tak tahan harga dirinya diremehkan didepan umum mulai , dipukulnya si perempuan. Si Perempuan tak tinggal diam, tapi membalas, dan dia mencari alat bantu. Didapatnya sapu lidi yang ada batang kayunya. Melihat si perempuan memegang sapu bertangkai, si laki laki memilih lari.

Saat si laki laki sudah lari, perempuan itu mengambil si bayi mungil dari gendongan teman laki lakinya. Di bawanya pergi si bayi itu dengan gendongan satu tangan. “dicengkiwing” bahasa jawanya. (tangan si perempuan menelusup di sela sela ketiak si bayi…

Beberapa saat kemudian si laki laki kembali ke tempat kejadian.  Dia mengambil kardus kardus susu yang ternyata dibuang untuk yang ketiga kalinya sama si perempuan. Sambil mengambil sebuah CUK atau ukulele atau apalah, sebuah alat musik mirip gitar kecil yang biasa dijadikan alat bantu mengamen anak anak jalanan.

Duh… Ya Allah, ujian tiap manusia itu beda beda… yang kesusahan mencari nafkah diberi ujian dengan tanggungan anak, yang sudak siap materi belum juga kau beri amanah. Semua itu kuyakin adalah caraMu menguji setiap hamba-Mu.  Meris melihat adegan tersebut ya Allah. Semoga Kau jauhkan hamba dan keluarga hamba dari hal hal seperti demikian. Jagalah keluarga hamba ya Allah.. Bimbing hamba menjadi istri , ibu, dan anak yang sholihah ya Allah..

*semoga si dede imut itu selalu dalam lindungan Allah azza wa jalla. Amiin.

Oleh: AruM | 16 Oktober 2011

Ini mimpiku… Mana Mimpimu….

Terlahir sebagai wanita. Yang mana menurut kirata basaI nya adalah wani ing tata. Berani menata/mengatur hidupnya, kehidupan rumah tangganya. Dulu dalam pikiran kalau dah jadi pegawai kayaknya hidup dah tenang. Dapet duit rutin tiap bulan. Tapi setelah sekarang dijalani kayaknya makin berat kalau Cuma mengandalkan penerimaan yang tap bulan. Tapi bingung juga mo ngapain.

Dari sebuah forum yang kuikuti ada seorang ibu yang menjadi motivator. Dia sama sepertiku. Ibu bekerja. Tapi dia super kreatif. Sampai anaknya memuji, “bunda hebad, meskipun bunda tidak mengantarku kesekolah, tapi bunda bisa memberikanku/membuatkanku apa yang tidak bisa dibuat oleh ibu yang lain” yah, ibu itu emang terkenal kreatif. Dari memasak, menulis, menjahit, berdagang, dia bisa semua. Banyak ibu-ibu yang bertanya apa resepnya. Gimana cara bagi waktunya.

Ibu itu yang sering disebut Master memberikan tips tipsnya. Yang penting ada kemauan. Pikirkan kemauan itu selalu. Trus apa yang bisa kita perbuat. Kalau jawabannya tidak ada mustahii kita tidak bisa ngapa ngapain. Coba pikirkan waktu kecil kita suka main apa. Kalau saya suka main masak masakan ama jual jualan…  dari situ kita bisa mengembangka bakat kita. Kita asah bakat kita sedikit sedikit.

Saat bakat kita sudah muncul pikirkan bisnisnya. Kalau belum direalisasikan pikirkan terus sampai terekam diotak kanan. Dan lama lama akan ketemu jalan. Nah dari sinilah muncul impian saya. Saya ingin buka warung kue. Karena hobi saya masak. Mungkin dimulai dari membuat kue2 kecil n jumlah sedikit. Bawa ke kantor, kenalkan ke ibu ibu, kalau ada yang punya acara boleh memesan. Trus titipkan ke warung2 dekat rumah. Setelah agak berkembang buka toko kue. Menerima pesanan.

Saat sudah berkembang jangan lupakan rezeki orang. Kata bang Ippho Santosa tingkatkan bagian rezeki orang lain. Kalau biasanya kita menyisihkan 2,5% saja coba tingkatkan lagi sampai minimal 10%nya. Karena Allah akan menggantinya lebih banyak lagi. InsyaAllah amiin.

Masih pesan si Master, lupakan sakit kita, kerjakan apa yang masih bisa kita kerjakan sebelum waktu membatasi ruang gerak kita. Yang penting kita Punya impian terlebih dahulu. Semoga Allah memberikan jalannya. Amiin.

Oleh: AruM | 10 Oktober 2011

Don’t Judge The Book From that Cover

Dah sering banget denger ungkapan itu. Tapi sering aja masih punya dzon dzon terhadap orang lain berdasarkan pengliatan sesaat. Inget kejadian yang diceritain temen tadi siang. Ada seseorang pake baju lengkap, cuma agak lusuh, trus dia bertanya tentang alamat, eh tidak taunya orang tersebut orang kurang waras… Tau gara2 ada orang teriak “itu orang gila mba…”
Dan inget juga perkataan temen tentang penampilan seseorang. Eh si fulan ahli ibadah ya. Berjenggot, celana ngatung. Pasti rajin puasa sunah dan sholat malam… Amiin, semoga kalau dzon yang seperti ini diaminkan sama malaikat…
masih banyak lagi kejadian yang menginspirasi, tapi dah ngantuk… Tadi pagi baru mendarat di stasiun senen jam 3 pagi…

Oleh: AruM | 6 Oktober 2011

tak ada judul

Setelah lama ga nulis memberanikan diri menulis (lagi).. Kl mo nulis sering malu.. yang ada dipikiranku saat ini masih banyak keluhan, keluhan yang seharunya tak perlu ada. jadi mending ga ditulis…

mo nulis yg lain juga ga enak. ide yang muncul sering tentang kelebihan suami, tapi jadi inget kata temen biarlah kelebihan suami aku aja yang tau, ga perlu dibicarakan didepan umum, takutnya suatu saat ada kekurangan suami yang muncul. Dan berbanding terbalik dengan kelebihannya, masa iya mo ditulis juga,kan malu sendiri ma orang.. Mana katanya suaminya gini, ternyata gitu… huh… Atau aku menulis seabrek kelebihannya, tiba tiba ada temen nya suami yangberinteraksi dimana aku tidak ada, dan tau ada kekurangan suami… Jadi biarlah semua ada di diary otakku saja.

mo nulis anak takut aku berkeluh kesah karena belum juga dikaruniai-Nya. Biarlah membuncah didada hingga aku tak kuat dan meminta pada Yang Maha Pengasih..

Oleh: AruM | 12 Juli 2011

Praktek bikin Schotel Singkong Keju

schotel

Ahad pagi jalan jalan sama suami ke Pasar. Lihat ada singkong kayaknya enak buat mencoba resep tantangan KBM. Beli 500 gr. Kirain bakal jadi banyak, ternyata sedikit. Karena diresep juga tertulis disajikan untuk 6 orang.

Sampai rumah masak buat makan siang dulu. Sambil nunggu goren ayam, minta tolong suami ngupas singkong, tadinya mo minta tolong marut sekalian, tapi ngeliat caranya marut ga tega. Selesai goreng ayam, singkong siap dikukus. Baca Lanjutannya…

Oleh: AruM | 12 April 2011

1204198412042011

12041198412042011

Sepintas angka diatas tidaklah bermakna. Tapi tidak bagi saya. Angka yang penuh makna. Ya dengan melihat angka yang berupa tanggal itu saya harus makin bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala. Tanpa saya sadari saya sudah 27 tahun bernafas dibumi Allah ini. Nikmat yang tak terhitung. Fabiayyi aalaairabbikumaa tukadzdzibaan… Maka nikmat mana lagi yang akan ku dustakan…

Terlahir dari pasangan Subodo (alm) dengan Sunarti (almh). Orang tua yang begitu menyayangiku. Bekerja membanting tulang memeras keringat demi kebahagiaan anak anaknya. Meskipun mereka tidak mengiringiku hingga perjalanan hidupku genap 27 tahun, tapi aku sangat bangga kepada mereka. Apresiasi tak terungkapkan bagi mereka. Hanya seuntai doa bagi kalian “semoga Allah mengampuni dosa kalian, memberikan tempat terbaik disisiNya, melapangkan kubur kalian, dan mengumpulka kita kelak di jannahNya” amiin. Hanya doa itu yang dapat kupersembahkan sebagai balasan atas budi baik kalian padaku yang tak dapat kuingat semuanya karena tak terhitung jumlahnya.

Dibesarkan dikeluarga kecil dengan 3 saudara membuatku bahagia. Membuat kami tak kekurangan rasa kasih sayang, saling mengasihi, saling menyayangi. Bantu membantu satu sama lain. Sebagai makhluk terkecil saya mendapatka perhatian yang begitu besar.

Ah tak terasa kebersamaan kita (meskipun tak semuanya) sudah berlalu 27 tahun. Ya seiring pertambahan umur saya. Ada rahasia dibalik rahasia. Saat Allah memanggil orang yang paling kusayang dan paling menyayangi saya, Allah memberikan gantinya. Allah mengirimkan orang yang menyayangi saya. Mengirimkan suami buat saya. Skenario Allah sungguh indah. Tak ada yang perlu ditangisi. Saya yakin kedua orag tua saya tenang kalau anak anaknya telah hidup tenang. Ada tempat bersandar. Fabiayyi aalaairabbikumaa tukadzdzibaan…

Ya Allah jadikanlah keberkahan selalu dalam sisa umur hamba… tuntunlah hamba dalam menjadi istris dari suami hamba.. berikan kami keturunan yang sholih/sholihah, penyejuk hati keluarga.. Amiin

Untuk suamiku jangan pernah capai dan lelah mendidik istrimu ini ya…

Oleh: AruM | 19 Februari 2011

Maaf Tidak Pakai Undangan

Undanganku Mana?

Bingung mau nulis apa. Sebenernya belum mud mau nulis, tapi daripada tiap saat ada yang bertanya tentang sesuatu dan saya berulang ulang menjawab, ya lebih baik saya tulis disini saja.

Bukan karena saya sombong, atau melupakan teman atau saudara, sehingga saya tidak memberitahukan pernikahan saya. Tapi karena kejadiannya mendadak. Ya diluar dugaan saya kalau sekarang status saya sudah menjadi Istri orang.

Manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang menyetujui. Begitu dengan saya da keluarga, merencanakan pernikahan saya pada tanggal 4 Maret 2011. Tapi Allah menetapkan lain. Saya ditetepkan menikah tanggal 1 Februari.  Semua terjadi mendadak. Mungkinkah ada hubungannya dengan nama panggilan suami saya dirumahnya? (dadak)…

Senin 31 Januari pukul 18.30, ibunda tercinta telah dipanggil kembali ke hadirat Allah, rasanya sedih, karena malam itu saya sedang diperjalanan. Sepanjang jalan hanya bisa meneteskan airmata da sesekali tersedu, karena saya pulang sendiri naik bis. Pagi pukul 06.30 saya baru nyampai dirumah. Makin sedih saat melihat ada tenda biru. Dan begitu nyampai halaman langsung dijemput sama kakak kakak dan saudara.

Pukul 08.30 suami (yang waktu itu masih calon) datang dengan maksut takziyah. Tak berapa lama kami berdua dipanggil sama paman. Ditanyai, mau tidak kalau nikah hari itu. Mumpung masih ada ibu, meskipun sudah tidak bernafas. Kalau tidak mau juga tidak dipaksa. Suami menunggu rombongan keluarganya untuk minta ijin. Tak lama keluarga suami dating, dan menyetujui kalau kami nikah dihari itu.

Pencatat pernikahan desa menghubungi Penghulu, kebetulan hari itu tidak sedang ada pernikahan. KUA mensyaratkan ada surat numpang nikah dari suami. Dan kebtulan lagi suami sudah mengurus hari senin, karena rencana kami hari jumat tanggal 4 februari mau mendaftar ke KUA. Suami pulang mengambil surat kelengkapan. Dia pun sudah kurang konsen, sampai tak sempet ngabari saudara2 yang lain.

Pukul 11 suami dah nyampai rumah saya lagi. Pukul 12 petugas KUA datang dan langsung disiapkan tempat ala kadarnya disamping jenazah. Saya dinikahkan oleh kakak laki2 saya. Dan Pukul 12.15 acara dah selesai. Dan saya InsyaAllah dah resmi jadi Istri dari Mas Musadat.

Hanya keikhlasan doa yang saya harapkan dari teman2, saudara semuanya. Maaf kalau saya tidak memberikan kabar apalagi mengundang. Waktu 3 jam, sambil melihat kenyataan ibu saya sudah tidak ada, dan tamu dirumah banyak. Sekali lagi maaf kalau pernikahan saya terkesan diam diam.

Untuk acara walimah dirumah saya tidak ada. Kmaren hanya sedikit syukuran kepada tetangga dekat. Saya tak merasa tak sanggup kalau menerima tamu saat walimah dirumah tanpa ibu saya. Dan acara walimah dirumah suami juga belum jelas. Karena ayah mertua (bapaknya suami) sedang kurang sehat.

 

 

Oleh: AruM | 3 Januari 2011

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 1,900 times in 2010. That’s about 5 full 747s.

 

In 2010, there were 73 new posts, not bad for the first year! There were 33 pictures uploaded, taking up a total of 9mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was October 12th with 130 views. The most popular post that day was Jadwal Interview CPNS DepKeu/KemenKeu 2010.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, id.wordpress.com, WordPress Dashboard, jobspromo.com, and liputan-terkini.co.cc.

Some visitors came searching, mostly for kereta api bogowonto, jadwal kereta bogowonto, jadwal tes wawancara depkeu 2010, curug silangit, and interview depkeu.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Jadwal Interview CPNS DepKeu/KemenKeu 2010 October 2010
2 comments

2

Kereta Api Bogowonto (Senen – Kutoarjo) November 2010
3 comments

3

Curug Silangit Purworejo October 2010
12 comments

4

Pesona Keindahan Pantai Selatan Di Balik Gunung Kidul October 2010

5

Puding Lapis Markisa Susu October 2010
6 comments

Oleh: AruM | 30 Desember 2010

Semoga tidak Ibu..

Libur hari natal kemaren saya pulang. Long weekend di Jabodetabek rasanya aneh. Mending pulang nengokin ibu. Ibu akhir akhir ini kondisinya sering drop. Jadi selagi masih lajang, saya usahakan pulang sesering saya bisa.

Setelah mandi dan istirahat ibu menyuruh saya ke rumah Kakaknya nenek. Sebut saja Mbah Mur. Simbah Mur anaknya ada 4 (sebenernya lebih, tapi saya lupa berapa anak beliau yg sudah meninggal sejak saya belum lahir). Suaminya dah lama meninggal. 3 anaknya ada di Jakarta dan Bogor. 1 lagi ada di kampung tapi beda desa dengan saya. Ya 15 menit nyampe sih kl pake motor. Intinya Mbah Mur sekarang tinggal sendiri.

Ga tau mana yang salah. Karena pikiran orang2 tua kadang susah dimengerti oleh anak muda seumuran saya atau lebih muda lg.. (sok muda). Anak sulungnya pernah tinggal bersamanya selama beberapa waktu yang lalu. Tapi tidak betah, katanya dikampung sepi, jauh dari anak cucu. Dan juga karena beliau mengidap asma akut, sewaktu waktu kambuh parah. Akhirnya memilih kembali ke Jakarta tinggal bersama anak dan cucunya alasannya biar ada yang nyediain obat.

Mbah Mur punya anak laki laki satu yag hidup. Ini masih menapki masa gemilang karirnya. Belum bersedia pindah ke kampung menemani simbah. Atau gak tau alas an lainnya apa. Sedangkan Mbah mur sendiri kalau diajak kerumah anak laki lakinya ini tidak pernah betah tinggal lebih dari 2 bulan. 1,5 bulan aja katanya dah lama banget. Dah minta pulang terus.

Saya sendiri heran knapa mbah mur selalu ingin tinggal di rumah tua itu . Rumah ukuran 3 rumah (Rumah jaman dahulu yang ada pendopo, rumah tengah, dapur yg pisah pisah). Rumah yang tidak materiil menurut saya, disbanding mbah mur harus hidup sendiri didalamnya.  Dan anehnya saat kmaren saya main kerumahnya Mbah Mur itu ngelu karena ga ada temen.

Karena saya masih muda , pikiran cethek saya nyalahin Mbah Mur knapa beliau ndak mau ikut salah satu anaknya. Abis itu malah saya merasa bersalah. Beliau sambil mau nangis bilang “lha moso ket cilik digedhekke, digendong dikempit dindhit, disekolahke, kok saiki aku ditinggal kemprung” –lha masa dari kecil dibesarkan, digendhong (ada depan samping belakang karena nggendong 3 anak sekaligus gendhong kempit indhit), disekolahkan, lha sekarang ditinggal semua gitu aja-

Selama menemani Mbah Mur ngobrol saya sambil membayangkan ibu saya. Semoga masa tuanya ada anaknya yang bisa menemani beliau menikmati masa pension. Ada suara riang cucu cucunya. Kalau anak anaknya tak bisa tinggal dirumahnya, semoga ibu bersedia ikut pindah tinggal di rumah anak anaknya. Baik menetap satu tempat , atau digilir di 4 rumah anak anaknya. Semoga bagian mutasi mengabulkan permohonan pindah saya segera. Amiin.

Oleh: AruM | 30 Desember 2010

Kisahnya

trit ini dibuka bwt anda2 yg udh nikah bwt sharing2 ttg gmn dlu kondisi pas brani ngambil kptusan bwt mmbina rumah tangga, n juga bwt yg blom nikah bs share kr2 knkdisi spt apa yg mmbwt anda sudah brani memutuskan utk menikah…monggo….

saya kira akan banyak brguna, terutama bg yang sedang mempertimbangkan masalah itu.

 

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.